Tegas dan Jelas, Ini Kata Buya Yahya saat Ditanya soal Maraknya Spirit Doll

  • Bagikan
Buya Yahya Spirit Doll
Foto: YouTube/Al-Bahjah TV

Ngelmu.co – Pertanyaan soal maraknya spirit doll di tengah masyarakat juga sampai kepada Buya Yahya.

Maka melalui kanal YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya memberikan penjelasan serta ketegasan.

Berikut selengkapnya:

Pertama, kita akan keluar daripada kelompok atau agama yang meyakini hal tersebut.

Kita akan kembali kepada agama Islam saja. Jadi mohon maaf, karena kita tidak ingin merendahkan atau menodai keyakinan [lain].

Karena kita tidak tahu apakah ini sebuah keyakinan di agama tertentu.

Karena ada agama yang juga menyembah patung, menyembah berhala, bahkan menjadikan boneka sebagai sesembahan.

Terlepas dari itu. Maka ini kami akan bicara dalam keluarga muslim. Anda seorang muslim.

Urusan boneka, bagi orang dewasa tidak ada perbedaan pendapat. Boneka dalam bentuk manusia.

Kalau Anda di rumah punya [boneka] untuk Anda yang dewasa, kalau Anda beli untuk yang dewasa, enggak boleh.

Adapun jika untuk anak-anak kecil, di situ ada khilaf, untuk anak kecil. Ini masalah hukum boneka.

Itu adalah tanpa embel-embel spirit doll dan lain-lainnya, hanya sekadar boneka.

Maka seorang suami memberikan hadiah kepada istrinya, boneka?

Mohon lebih baik adalah sepeda motor kek, atau anting, atau gelang. Bukan boneka.

Agar semakin berkah, untuk tabungan. Anda beriman ‘kan? Jangan masalah hidup, ikut tren.

Kalau ikut tren, ya, tren-nya baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dong.

Jangan ikut tren-nya orang. Masa ia memberi hadiah boneka, saya ikut-ikutan?

Kan kita punya keimanan, punya prinsip… tapi jangan mencela kalau orang punya agama lain, ya.

Ini, kita harus waspada betul dalam hal semacam ini.

Tapi dalam Islam, Anda bisa mengubah itu semuanya. Jadi, tidak diperkenankan. Kalau anak kecil pun ada khilaf di dalamnya.

Anak kecil, boneka-boneka, sesuatu yang bentuk kayak binatang, maksudnya adalah sesuatu yang bernyawa-lah. Binatang atau manusia.

Jika anak kecil, ada khilaf di dalamnya.

Seorang ibu membelikan [boneka] untuk anaknya, seorang bapak memlikan untuk anaknya, bukan seorang bapak membelikan untuk istrinya, enggak. Bukan.

Mohon dipahami ini.

Mungkin ada di antara kita yang belum tahu, ‘kan Allah Maha Pengampun wahai hamba Allah.

Baca Juga:

Yang menjadi masalah adalah kesombongan kita. Jika Anda sudah tahu seperti ini, tinggal perlahan.

Tinggal dipotong saja [bonekanya], mungkin dibentuk jadi bantal atau bagaimana.

Supaya tidak ada bentuk patungnya, tidak bentuk binatang, atau sesuatu yang bernyawa.

Mudah, untuk tobat itu mudah, dan tidak boleh saling mencaci.

Mungkin Anda melihat tetangga atau saudara Anda masih punya boneka-boneka, sementara ia sudah dewasa, boleh diingatkan dengan perlahan.

Permasalahan kita ‘kan bukan permasalahan pembakangan kepada syariat. Permasalahan kita bukan permasalahan menentang Allah.

Semuanya takut kepada Allah, insya Allah. Semuanya insya Allah pengin masuk surga Allah.

Cuma permasalahannya adalah ketidaktahuan.

Jadi kalau orang tidak tahu, tidak perlu dicaci, tapi diberi tahu. Maka kami beri tahu saat ini.

Beli yang lebih bermanfaat.

Ini adalah masalah urusan boneka.

Kemudian masalah keyakinan-keyakinan… Kita ini punya iman, dari segi keimanan, enggak boleh kita meyakini yang demikian itu.

Boneka adalah boneka. Orang meninggal dunia, sudah punya urusan di alam barzakh.

Anak kecil, ia akan diberi kenikmatan oleh Allah di alam barzakh, tidak ada siksa.

Enggak ada anak kecil jahat, kemudian menjadi roh jahat, enggak ada.

Yang ada adalah jin jahat, atau setan yang terkutuk. Itu yang ada.

Adapun roh bayi-bayi kecil yang mati sebelum akil balig, maka ia adalah bayi-bayi yang dimuliakan, biarpun anaknya orang yang tidak beriman.

Enggak perlu ia harus masuk boneka-boneka itu. Enggak ada [dalam] keyakinan kita.

Ngapain masuk boneka-boneka itu? Lebih enak ia di alam barzakh sana.

Kemudian jika itu adalah orang jahat yang meninggal dunia, ya, ia harus menyelesaikan urusannya di alam barzakh.

Enggak bisa, enak saja jalan-jalan ke boneka. Enggak ada itu semuanya, dan itu bukan keyakinan dalam Islam.

Mungkin agama lain sana ada masalah inkarnasi dan seterusnya, [itu] adalah urusan agama lain, kita tidak boleh mencaci.

Baca Juga:

Yang jelas, kita meyakini agama kita.

Mohon maaf, mungkin dari yang meyakini tentang inkarnasi, tentang karma, segala macam, ini adalah kami bicara dalam lingkup agama kami, kami tidak mencaci agama Anda.

Supaya kita, kita harus menghindari permusuhan dan caci maki. Olok-olokan.

Kami hanya menjelaskan dalam agama kami, Islam. Di agama kami, tidak ada.

Roh akan punya tanggung jawab. Kalau orang beriman, orang baik, orang mukmin, beriman, ia mendapatkan kenikmatan di alam barzakh.

Sebagian dari kenikmatan daripada surga itu.

Kemudian kalau ia adalah orang yang bermaksiat, akan diselesaikan dulu. Dosa-dosanya akan mendapatkan hukuman di tempat tersebut.

Setelah selesai, akan mendapatkan kenikmatan, setelah itu.

Anak kecil tidak ada dosa. Tidak ada anak kecil dihukum di neraka. Enggak ada.

Allah tidak akan menghukum, tidak ada anak kecil tersiksa. Enggak ada anak kecil tersiksa, jahat, dan sebagainya.

Biarpun ia melakukan kejahatan masa kecilnya adalah tidak dianggap. Ia harus dihentikan. Harus dikasih peringatan.

Akan tetapi, kalau mati, selagi ia belum balig, tidak dihukum. Selesai.

Kemudian hal lain lagi, ini adalah masalah, problem-problem psikologi juga ada di sini.

Kalau keimanan, sudah selesai. Anda punya iman, enggak akan Anda masuk wilayah ini.

Ini problem-problem psikologi. Beberapa waktu yang lalu kita mendengar, tahun 2020, 230 ribu atau berapa, orang Indonesia akan hijrah ke planet?

Sebetulnya, [mereka] yang mendaftar, ada permasalahan dalam dirinya. Masalah psikologi. Ia merasa tidak nyaman dengan penghuni bumi.

Ia tidak bisa baik dengan tetangga. Mungkin ia bentrok terus dengan suami, atau istrinya, dan sebagainya.

[Punya] Permasalahan pribadi. Sehingga menjadikan ia itu seolah-olah enggak ada harapan.

Dalam kepanikan mental itu, kepanikan pikiran, sekaligus bisa saja itu dibarengi dengan kekosongan hati.

Jadi ada kekosongan hari dari keimanan, ini bab-nya berbeda.

Baca Juga:

Mental yang terganggu, ini yang kita maksud psikologi. Ada fisik yang sakit.

Jadi, orang dalam kepanikan itu kadang-kadang tidak mengerti bahwasanya di luar itu lebih bahaya lagi.

Seperti paniknya orang di saat berada di padang mahsyar.

Suasana panas, orang-orang yang tidak beriman itu mengatakan:

“Keluarkan kami dari padang mahsyar ini, biarpun masuk ke neraka enggak apa-apa.”

[Mereka] Tidak mengerti bahwasanya di dalam neraka lebih pedih lagi.

Seandainya di Mars, bagaimana cocok tanamnya nanti? Bagaimana cari duitnya? Makannya gimana yang mau hijrah ke Mars?

Kita hanya senyum saja mendengar yang demikian itu, kok, ada yang mendaftar?

Apakah benar atau tidak benar, bahkan ada yang bicara, “Saya pengin pindah.”

Sebetulnya, ada masalah-masalah psikologi.

Maka dari itu kami imbau, siapa pun yang punya di dalam dirinya permasalahan psikologi, mungkin ia merasa tidak nyaman dengan orang, bisa jadi masalah hati yang kotor.

Yuk, kita berbenah. Baginda Nabi mengajarkan, bagaimana kita menumbuhkan kecintaan.

Enggak perlu lagi pergi ke Mars. Jangankan Mars, ke kampung sebelah saja enggak perlu, dong?

Karena saya merasa nyaman di rumahku, dengan keindahan di dalam diriku.

Ini kemudian masalah boneka. Artinya, kalau untuk mencari keindahan…

Orang normal, manusia normal, keindahan adalah di saat ia benar-benar bisa mendidik seorang anak.

Biarpun bukan anaknya. Mengadopsi, ya, anak manusia, dong. Cuma mengadopsi dalam Islam bukan harus diubah nasabnya.

Ambil anaknya orang. Di [luar] sana banyak anaknya orang-orang fakir.

Daripada kita harus merawat boneka berjumlah banyak dengan biaya besar. Mana ada pahala di balik ini semuanya?

Ini membahayakan juga kalau semua orang gaya hidupnya begitu. Mana yang mengurusi manusia nanti?

Kita perlu membangkitkan dalam diri setiap umat ini adalah rasa, kemanusiaan. Rindu untuk menolong, rindu untuk berbagi.

Rawat anaknya hamba-hamba Allah. Mereka yang susah cari makan. Pakaikan baju yang layak. Siapkan tempat yang bagus. Bukan boneka.

Baca Juga:

Kemudian juga yang secara psikologi, sehat. “Saya merawat boneka”, apa buahnya setelah itu?

Dalam iman Islam tidak ada keyakinan roh masuk dalam boneka. Enggak ada.

Tapi kalau merawat anak, ia akan tumbuh besar, kemudian ia masya Allah, ia menjadi orang yang berguna. Senang ‘kan kita?

Jadi, bisa jadi itu adalah masalah-masalah psikologi. Kalau soal keimanan, orang yang tidak beriman, lain beda-lah.

Masalah keimanan, jelas. Kalau memercayai yang demikian, ya, imannya yang keropos.

Cuma mungkin ada orang yang beriman ternyata masih tiba-tiba menyimpan yang demikian, itu sudah…

Bisa jadi ia itu tidak merasa nyaman, karena ada gerakan juga, kumpulan orang yang tidak ingin punya anak. Ada ‘kan?

Sekarang ada lagi, nanti makin marak, boneka… yang satu menyeru agar tidak punya anak, hiburannya boneka.

Lalu, mana generasi-generasi yang beriman?

Itu adalah permasalahan sangat pribadi pada diri orang tersebut.

Karena ia mungkin merasa tidak bisa nyaman dengan manusia, maka ia dengan boneka.

Kalau dengan manusia, suka dibantah, karena ia belum pernah belajar sabar.

“Saya enggak mau omongan saya dibantah. Saya enggak mau tersakiti dengan bantahan orang.”

Karena ia belum pernah menata hati…

“Maka saya ingin berurusan dengan sesuatu yang tidak bisa membantah omongan saya, dan tidak bisa marah kepada saya.”

Siapakah itu? Boneka.

Berarti ia lemah psikologinya, karena ia tidak bisa mencoba berinteraksi dengan manusia.

Itu ternyata irama keindahan, di saat ada orang marah kepada kita, itu bagaimana kita bisa [tahu], “Oh, ia marah.”

Sehingga kita bisa menikmati, ternyata yang lainnya tidak marah kepada saya. Menikmati nikmatnya orang yang tidak marah.

Kemudian saya melatih kesabaran. Hidup di dunia semacam itu.

Kita tidak akan lepas dari orang yang marah kepada kita, menggoda kita, dan sebagainya.

Hendaknya, orang hebat, ya, yang menyelesaikan permasalahan ini.

Baca Juga:

Harus punya ilmu kebal. Orang menyakiti, orang zalim, kita punya ilmu kebal. Bukan dengan boneka, wahai ahli iman.

Adapun orang yang punya keyakinan masalah boneka, itu urusan mereka. Orang yang di luar agama Islam.

Mohon maaf dengan yang di luar Islam, barangkali yang punya keyakinan seperti itu.

Kami tidak menyinggung agama Anda, keyakinan Anda, kami hanya bicara dengan saudara-saudara kami, kaum muslimin.

Muslimin tidak perlu lagi dengan urusan begitu. Anda harus bercita-cita punya anak.

Bagi yang tidak diberi oleh Allah keturunan juga bukan sebuah kehinaan.

Siti Aisyah mulia ahli surga juga tidak punya anak. Tinggal bagaimana Anda merawat anak-anak umat Nabi Muhammad.

Andai tidak punya anak, jangan berkecil hati. Punya banyak rezeki, itu banyak umat Nabi Muhammad.

Anak-anak umat Nabi Muhammad yang menuntut ilmu, yang hidup kekurangan, urusi mereka. Bukan boneka, bagi Anda wahai ahli iman.

Namun, anak-anak manusia. Ini lo, kemanusiaan yang boleh dibangkitkan ini. Kesadaran untuk menolong, untuk berjuang demi kemanusiaan.

Ini yang perlu kita bangkitkan.

Semoga Allah memberikan petunjuk.

Jadi, ahli iman, tidak usah berurusan dengan yang demikian itu. Enggak perlu, dan harus bangun keyakinan.

Bahwasanya tidak ada istilah roh-roh semacam itu. Tidak boleh kita yakini.

Bahkan, bahaya sekali. Itu sangat membahayakan iman, dan bisa jadi menjadi sebab kita keluar dari iman.

Kuatkan keyakinanmu kepada Allah. Allah yang Maha Kuasa.

Harapan kami, siapa pun yang mendengar ini adalah yang Allah kuatkan imannya.

Segera meninggalkan hal-hal yang membahayakan untuk pribadi, psikologinya, kemudian keimanannya, kehidupannya di dunia, dan juga kehidupannya di akhirat nanti.

Semoga Allah memberikan kepada kita kesuksesan dunia akhirat, bahagia dunia akhirat. Kami mencintai Anda semua karena Allah.

Wallahu a’lam bishawab.

  • Bagikan
ngelmu.co