Sang Saka Merah Putih

Ketika Sang Saka Merah Putih Berkibar Pertama Kali

Diposting pada 91 views

Ngelmu.co – Esok, adalah hari kemerdekaan Indonesia yang ke-74. Namun, tahukah kamu seperti apa suasana, ketika Sang Saka Merah Putih berkibar untuk pertama kalinya di langit Indonesia?

Bagaimana peristiwa yang sebenarnya terjadi, saat para Proklamator membacakan Teks Proklamasi? Berikut kisahnya, seperti dilansir Republika.

Pembacaan teks proklamasi dan penaikan bendera, pada 17 Agustus 1945, berlangsung di pelataran rumah Bung Karno, Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Tetapi seperti apa suasananya saat itu? Apakah upacara berlangsung megah? Atau hanya berlangsung singkat dan khidmat?

Mengutip buku bertajuk ‘Aku Ingat … Rasa dan Tindak Siswa Sekolah Kolonial di Awal Merdeka Bangsa’, Penerbit Psutaka Sinar Harapan, tahun 1996.

Dalam buku itu terdapat kisah yang dituturkan Etty Abdurrahman, lulusan HBS dan PHS Batavia, yang pada masa awal kemerdekaan, tahun 1947, pernah bekerja di bagian bahasa Prancis, Siaran Luar Negeri RRI Yogyakarta.

Ketika mendengar teks Proklamasi dibacakan oleh Bung Karno, “… Orang-orang yang mendengar Proklamasi Kemerdekaan ini bertepuk tangan. Tidak ribut dan tidak meriah. Sopan dan terang,” kata Etty.

Selengkapnya, Kisah Sang Saka Merah Putih Berkibar Pertama Kali

“… Aku berdiri di bawah pohon bungur yang berbunga ungu di pekarangan rumah Bung Karno, di Jalan Pegangsaan 56 Jakarta. Pagi cerah, Jumat 17 Agustus 1945, suasana tenang tidak ada yang bicara keras.

Orang yang dipekarangan tidak banyak, yang datang adalah orang-orang yang mendengar kabar bahwa hari itu akan ada acara istimewa, dan tidak diumumkan.

Kami menunggu dan memperhatikan ruangan depan rumah itu, di mana ada beberapa orang yang mondar-mandir, masuk dan ke luar lagi.

Akhirnya, pada pukul 10.00, Bung Karno dan Bung Hatta ke luar dari ruangan tengah dan berdiri di tangga diikuti oleh beberapa orang lain untuk mengikuti acara yang akan dimulai.

Dengan suara khas, Bung Karno membaca teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ditandatangani Soekarno-Hatta.

Tanggal 17 Agustus, kami bebas dari segala penjajahan asing! Kami orang Indonesia mempunyai tanah air Indonesia yang berdiri sejajar dengan negara-negara merdeka di dunia ini.

Orang-orang yang mendengar Proklamasi Kemerdekaan ini bertepuk tangan. Tidak ribut, tidak meriah. Sopan dan tenang. Menunggu kemungkinan tindakan//represailes//(pembalasan) dari tentara Jepang yang masih ada di Indonesia.

Namun, tidak ada tindakan apa pun dari pihak Jepang, se-akan mereka terima perubahan situasi di Indonesia dari tanah jajahan menjadi tanah merdeka.

Aku terharu. Ingin menangis tetapi tidak ada air mata yang ke luar. Hanya tenggorokan yang terasa sakit, seperti ada barang yang bergumpal di dalam dan tidak dapat ditelan.

Aku sadar 17 Agustus 1945, dengan Proklamasi Kemerdekaan selesailah perjuangan politik dans elesai pula penderitaan pejuang-pejuan politik yang ke luar masuk penjara karena berani menentang pemerintah penjajah asing.

Aku melihat suatu kaleidoskop politik, mulai dari Trikoro Dharmo, Boedi Oetomo, Organisasi nasional dan regional. Serikat Islam, dan seterusnya sampai melalui jalan berliku-liku, mencapi klimaks yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Merdeka!

Dari tempatku berdiri, aku melihat bendera, Sang Saka Merah Putih dinaikkan ke tiang bendera di sebelah kiri ‘Gedung Kemerdekaan’, nama yang kami sebut pada hari itu, di bawah pohon bungur.

Merah-putih warna bendera kita, yang sekarang bisa berkibar bebas di atas kepala-kepala kita; tidak lagi sembunyi-sembunyi kalau lewat kantor penjajah asing.

Dengan kemajuan politik, kita dulu diizinkan memakai ikat leher untuk kepanduan (sekarang Pramuka).

Tidak perlu lagi menunggu izin atasan atau pemerintah untuk memakai bendera merah-putih sebagai tanda Indonesia di gedung-gedung pemerintah dan di mana saja kita berada, baik di dalam maupun luar negeri.

Merah Putih kebanggan, dapatkah kita pertahankan bendera kita, sesudah 17 Agustus 1945? Harus! Tidak ada jawaban lain.

Kesadaran itu meresap dalam tubuhku ketika melihat bendera kita di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, naik dengan perlahan ke atas kepala kami dan akhirnya mencapai puncaknya untuk berkibar bebas, lepas ditiup angin pagi.

Setelah acara selesai, kami semua bergembira. Ada yang cepat meninggalkan tempat itu untuk mengabarkan kawan-kawan yang tak hadir pada acara penting itu.

Aku pulang dengan berbagai perasaan. Gembira, berat hati, lelah, perasaan tak tentu,”.

Kisah Lain dari RMA Soetrisno Mangoendihardjo

Kisah yang sama, juga datang dari RMA Soetrisno Mangoendihardjo yang semasa kemerdekaan sempat menjabat sebagai Direkur Merpati Nusantara.

Beginilah kisahnya ketika mengikuti langsung upacara penaikan bendera dan pembacaan teks proklamasi di pekarangan rumah Bung Karno itu:

… Pada hari Jumat jam 08.00 pagi saya sudah menuju dari rumah (Jl Pekalongan 14) ke Matraman Planstoen lewat jalan Jan Pieterszoon Coen.

Tentunya lewat jalan Pieterszoon Coen engan harapan bisa bertemu adik gadis Wibowo, yang pada waktu itu sayang anggap ‘mijn mesije’. Siap, pagi itu tidak ada.

Setiba di Matraman Planstoen 10, ternyata Soebianto tidak ada, Soedjono juga ke luar. Karena itu, kuputuskan untuk pulang saja.

Entah kenapa, saya pilih Pegangsaan Timur, sampai sekarang pun saya tidak ingat. Melewati rumah Bung Karno, saya lihat orang-orang di dalam rumah dan pekarangan.

Karena ingin tahu saya berhenti dan masuk ke pekarangan.

Di situ, saya lihat beberapa perwira PETA di depan, di serambi dan di belakang rumah, tetapi tidak ada yang menegur saya, mungkin karena saya pakai celana pendek, kemeja putih, topi (seragam sekolah menengah tinggi (SMT)).

Saya juga melihat di sana beberapa murid SMT lain, dari kelas yang lebih tinggi.

Tidak lama setelah masuk pekarangan, saya melihat dari jauh (belum sempat meneronbos ke dalam), persiapan upara menaikkan bendera.

Disiplin kami cukup tinggi, yang menyebabkan saya secara refleks berhenti jalan dan mengambil sikap siap.

Begitu bendera mulai naik, saya pun memberi hormat. Namun, masih terlintas di benak, mana ‘Hinomaru’ (bendera Jepang), dan mengapa tidak terdengar lagu ‘Kimigayo’ (lagu kebangsaan Jepang).

Waktu mendengar lagu Indonesia Raya, baru saya rasakan, bahwa sedang terjadi suatu peristiwa istimewa.

Pada waktu itu, saya ingat bahwa beberapa hari sebelumnya, Soebianto sudah memberitahukan bahwa Jepang kalah perang, dan kita haru bersiap-siap.

Siap untuk apa? Waktu itu saya belum paham.

Setelah upacara selesai, baru saya ketahui, banyak mahasiswa-mahasiswi di sana, dan dari mereka, saya tahu bahwa kita sudah MERDEKA!”