Kisah di Balik Mualafnya Kakak Ustadz Felix Siauw

Diposting pada 646 views

24 Juni 2019, satu WA datang ke saya dari nomor yang nggak dikenal. Baru esok harinya ketika senggang, saya mengenali itu nomor kakak kandung saya

Saya nggak pernah menyimpan nomor kakak-adik saya, khususnya yang satu ini, Freddy namanya, menyebut nama saja malas, saya lebih dari benci kepadanya

Masa kecil tak ada yang saya ingat kecuali dendam. Disakiti sejak kecil namun tak bisa membalas, itu yang membuat saya akhirnya berbeda 180% dengan dia

Freddy bertato, merokok, kuliah diluar negeri, gonta-ganti pacar, antingan. Saya? semua yang tidak dia lakukan, sebab saya benci dia dan semua yang dia lakukan

Di WA itu, saya terkejut, ini pertanyaannya:

Orang yang berusaha memenuhi kebutuhan janda dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid fii sabilillah atau seperti orang yang rajin puasa di siang hari dan rajin tahajud di malam hari – HR Bukhari Muslim

Tulisnya, “Lix ini maksudnya gimana? Ada referensi yang bisa gue pelajari?”. Sontak saya jawab, dan kirimkan 11 buku ringan baginya untuk mengenal Islam

2 Agustus 2019, malam itu gempa melanda Jawa Barat dan sekitarnya, WA dari Freddy lagi: “Kau lagi di BDG?”. Rupanya dia juga sedang tugas di Bandung

Harusnya malam itu kita berjumpa dan bicara, tapi saya terlalu lelah. Akhirnya esok harinya kita berjumpa di event ShafMuslimah, saya undang Freddy untuk hadir

Kajian dimulai sebelum Freddy hadir, dan saya tak sadar kalau selama pembicaraan 1 jam itu, kakak saya mendengarkan. Kemudian kita bawa dia naik ke panggung

Dia menceritakan, bahwa wajar saya membencinya, sebab hal masa lalu. Dia menceritakan, saat ini respect dengan Islam, bahwa di sekelilingnya banyak yang Muslim

Kata-kata “assalamu’alaikum” “alhamdulillah”, “insyaAllah”, mudah keluar darinya. Awkward, saya mengharu. Tertampar, begini cara Allah mengajari saya

Orang yang tak pernah saya doakan, tak pernah saya minta agar Allah berikan padanya hidayah. Saat ini begitu dekat dengan ke-Islaman. Yang mustahil itu nyata

Selepas dari itu, berkali-kali kita berjumpa dan WA dengan intens. Menemui orangtua yang makin galau karena akan “kehilangan 1 orang anak lagi” versi mereka

Beberapa kali saya menyanyakan pada Freddy, kalau sudah siap, syahadat saja. Namun berkali-kali pula beliau bilang, “Nanti”, belum siap dengan konsekuensinya

Sampai hari itu, 7 September 2019. Kajian Musawarah mengundang Ust. Adi Hidayat. Saya sampaikan pada Freddy, “Mau syahadat?”. Dijawab, “Belum”, ya sudah

Saya jemput dengan mobil, kepala saya seolah melayang. Maklum 4.30 pagi baru tiba setelah 10 jam menyetir dari pesantren Alila di Karangpandan

Saya tanyakan, “Apa sih yang buat kau masih belum mau untuk syahadat?”. Dia jelaskan, “Gue takut, dengan semua konsekuensinya, orangtua, keluarga, pekerjaan”, begitu

Saya sambung, “Pisahkan masalah inti dengan cabang, Islam itu urusan kita dengan Tuhan, itu intinya, selesaikan itu sebelum yang lainnya, biar nggak menumpuk”, lanjut saya

Lalu, “Untuk masuk Islam, hanya perlu 1 poin saja. Kau meyakini Tuhan itu hanya Allah hanya ke Allah kau menyembah, dan Nabi Muhammad itu utusan Allah, dengan caranya kita tau cara menyembah Allah itu kau yakin?”, tanya saya

Dia sampaikan, “Kalau itu gue yakin, Allah itu Tuhan satu-satunya, semua agama. Dan Muhammad itu Rasul Allah, dan Islam serta Al-Qur’an adalah update terakhir dari Tuhan”, jelasnya

Saya bilang, “Lha, kau itu sudah Islam secara maknawi, cuma belum syahadat aja! Lagian agama mana lagi yang bisa mengadopsi paham begini? Cuma Islam”, pungkas saya

Lalu saya jelaskan kepadanya soal Raja Najasy yang menjadi Islam tanpa saksi, bagaimana Rasulullah menshalatkan gaib sebab ia sudah beriman walau tak disaksikan

Saya tambahkan, “Bila kau sudah Islam, kau tanggung jawab gue, gue tanggung jawab kau, sebab kita saudara sedarah, sampai mati gue bela”. Saya simpulkan

Lalu dia katakan, “Bagaimana dengan konsekuensi Islam?”. Saya jawab, “Saya pun sampai sekarang masih mempelajari, kita tuh nggak sempurna, makanya masuk Islam, bukannya kita sempurna baru boleh masuk Islam, gue bantu”, kata saya

The rest is tears and pray, istighfar dan hamdalah. Hari itu Allah berikan pelajaran berharga pada saya. Sangat berharga. Bahwa semua ini, semuanya, dalam genggaman-Nya

Begitu mudah Allah membolak-balikkan hati, begitu mudah bagi Allah mengubah manusia. Bahkan yang paling saya benci dalam hidup, bahkan semustahil itu bagi saya

Saya memeluknya, menenggelamkan benci dalam lautan kasih sayang dari Allah, hingga karam tak terlihat. Hari itu Allah ajarkan kasih sayang karena iman

37 tahun baginya, 35 tahun bagi saya, darah tak persaudarakan kami, harta tak menyatukan kami. Islam yang bisa mengikat hati, Allah yang punya kuasa

Fase baru baginya, ujian berat segera datang, kini Freddy sedang berusaha menghadapinya. Dia tak sendiri, ada banyak airmata dan doa baginya, dia punya saya

Doakan, sebab semua ini benar-benar tak mudah. Setan dan balatentaranya, pasti berusaha mengerahkan usaha terbaiknya untuk berbuat jahat dan nista

Tapi diatas segala-galanya, tanggung jawab kita ada pada Allah sebelum semuanya, sebelum manusia. Hanya pada Allah kita berharap, tak ada kekuatan selain Dia

@FelixSiauw