Minang dan Simbol Segitiga

Diposting pada 211 views

Ngelmu.co – Surau-surau (masjid) kuno di ranah Minang banyak yang masih berdiri sampai sekarang. Usianya bahkan ada yang 500-an tahun. Seperti Surau Sicincin di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Bentuk bangunan-bangunan itu khas; atap berbentuk limas yang terbuat dari ijuk. Kalau ingat pelajaran matematika dari SD, tentu tahu bahwa limas itu sisi-sisinya berbentuk segitiga. Dan bentuk atap itu identik juga dengan Piramida di Mesir.

Tapi di luar bentuknya yang beratap limas/sisi segitiga, surau di Minangkabau memiliki konsep pendidikan yang baik untuk pemuda dan anak-anak Minang. Dikenal dengan sistem surau, di mana anak-anak belajar mengaji di sore hari, dilanjutkan dengan berlatih silat malam harinya, dan tidur pun di rumah Allah itu.

Yang paling prioritas buat umat Islam adalah mendiskusikan sitem yang baik dalam memakmurkan masjid. Agar dari sana tercetak jamaah dan generasi yang siap menjalankan Islam dengan kaffah.

Bangunan fisik masjid perlu juga dirawat dengan baik agar jamaah nyaman berada di dalamnya. Karpetnya yang nyaman, ruangan yang tidak pengap dan gerah, sound system yang baik. Tentu, segala simbol kemusyrikan harus dienyahkan di dalamnya, tapi bukan dengan sibuk mengorek-ngorek dan mengait-ngaitkan ornamen masjid dengan simbol kemusyrikan.

Al ‘umuru bi maqasidiha, setiap perkara tergantung dari niatnya. Begitu kata ulama merumuskan kaidah fiqh. Maka kita tidak perlu repot menggugat tiang listrik atau tiang jemuran yang berbentuk salib, seperti lambang Agama Kristen. Bentuk seperti itu sesuai kebutuhan.

Tak hanya surau, rumah adat Minangkabau juga unik dengan beberapa gonjong yang berbentuk tanduk pada atapnya. Kalau ditarik garis, bisa tergambar segitiga dari gonjong itu. Bahkan tanduk pun bisa mengingatkan pada lambang paganisme. Entah Baphomet, atau pentagram, tergantung bagaimana melihatnya.

Tapi adat Minangkabau punya slogan yang justru berlawanan dengan kehidupan pagan. Yaitu, adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Adat bersendi syariat, dan syarait bersendi kitabullah. Artinya, walaupun rumahnya begitu, tapi orang Minang disiplin mengamalkan Islam. Sehingga lahir dari sana sosok ulama seperti Syeikh Khatib Al Minangkabawi, Haji Rasul, Buya Hamka, Agus Salim, dll.

Bahkan kemarin ini ada yang menjuluki orang Minang “garis keras” dalam hal agama. Walau pun atap rumah adatnya begitu. Yang paling prioritas buat umat Islam adalah menciptakan kehidupan sosial yang lekat dengan nilai-nilai agama. Agar lahir bangsa yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

Begitu banyak orang-orang pagan dan musyrik membuat simbol. Dari yang rumit, hingga sederhana dan mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tidak mungkin kita bisa menghindari seratus persen hal-hal begitu.

Lebih penting bagi umat Islam adalah memikirkan substansi. “Al-Ibratu bil musammayat la bil asma,” kata ulama Fiqh merumuskan sebuah kaidah yang berarti sebuah perkara dinilai dari hakikatnya, bukan dari penamaannya. Diambil pelajaran dari situ, bahwa porsi perhatian umat jangan sampai lebih besar pada cover dibanding substansi.

Jadi, begitulah hadirin yang berbahagia. Mari memikirkan hal yang lebih penting.

Oleh: Zico Alviandri